Masalah Sosial, Semua Pihak Harus Terlibat

Mataram–Masalah sosial tidak bisa diabaikan. Di NTB jumlah warga yang terkena kesenjangan sosial jumlahnya cukup tinggi. Hal ini disampaikan dalam sosialisasi pembangunan bidang kesejahteraan sosial.


“Angkanya sekitar 725 ribu lebih kepala keluarga yang masuk kesenjangan sosial. Baik itu karena miskin, disabilitas, dan sebagainya, ” kata Kepala Dinas Sosial H Ahsanul Khalik, kemarin (15/5).

Disebutkan, masalah sosial ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Dampaknya bisa memicu konflik sosial. Seperti kisah perang Mahabrata yang juga lahir karena kesenjangan sosial. Persoalan sosial harus dieliminir secepat mungkin.

“Jangan sampai bangsa ditenggelamkan karena masalah sosial, ” terangnya.

KOMPAK: Wagub NTB HM Amin (lima dari kanan) foto bersama dengan jajaran Dinas Sosial Prov NTB.

 

Khalik mengurai, bekerja sosial sesungguhnya adalah meneruskan risalah kenabian. Dimana para nabi hadir ditengah umat untuk memperhatikan soal aqidah maupun sosialnya.

“Jadi apa yang dilakukan jelas adalah hal yang baik, ” ucapnya.

Lebih lanjut, untuk mengurangi angka kemiskinan di NTB, Dinas Sosial Provinsi NTB memulai dengan pembenahan sumber daya manusia (SDM). Berikutnya mengatur pola kerja dinas. Termasuk memperkuat jejaring dan komunikasi dengan kabupaten/kota.

“Semua pihak harus ikut hadir dan dilibatkan dalam pembangunan kesejahteraan sosial, ” urainya.

Pria asli Masbagik, Lombok Timur ini menyebut, kepedulian dari Kementerian Sosial bagi daerah cukup luar biasa. Ada tiga hal yang kemudian didorong dinas untuk kian meningkat. Pertama, membangun penerimaan dari masyarakat terhadap pekerja sosial. Kedua, memberi penghargaan pada pekerja sosial. Ketiga, meningkatkan kridibelitas pekerja sosial.

“Tiga hal ini harus dipacu dan jadi perhatian kami, ” imbuhnya.

Pendukung dinas, lanjut Khalik, ada balai sosial. Di NTB ada delapan balai sosial. Menangani remaja, orang dengan gangguan kejiwaan, sampai lanjut usia. Kualitas dari balai ini harus ditingkatkan supaya bisa memberi manfaat lebih luas lagi.
“Seperti di Kota Mataram saja, dua hari bisa menjaring 20 orang dengn gangguan kejiwaan, ” terangnya.

Mengenai balai sosial untuk lanjut usia, Khalik mengingatkan, lansia di balai ini adalah dari kalangan kurang mampu. Masih didapati lansia dari keluarga berada. Malah belum lama ini, anak dari lansia itu bergelar doktor.
“Ini sudah tidak boleh lagi. Tidak boleh menerima dari orang kaya, ” tegasnya.

Khalik kembali mengingatkan, semua pihak bergandengan tangan menyelesaikan masalah sosial. Pembangunan di NTB dilakukan untuk semua, utamanya adalah orang miskin.
“Membangun sosial tidak bisa seperti membangun fisik yang bisa dilihat langsung. Membangun sosial akan kita lihat beberapa tahun ke depan, apa yang kita lakukan saat ini akan dikenang ke depan, ” imbuhnya. (*)

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *