Gizi Buruk Salah Siapa?


Seminggu ini sedang ramai dibicarakan di pelbagai media baik online maupun cetak, terutama di kalangan media sosial tentang kartu kuning yang diberikan seorang ketua BEM di sebuah Universitas Negeri ternama kepada Presiden Jokowi. Pemberian kartu kunin pg ala wasit pertandingan sepak bola ini terkait protes kinerja pemerintah yang dinilai lamban menangani terjadinya gizi buruk di wilayah provinsi Papua, tepatnya gizi buruk yang menimpa warga suku Asmat.

Sebetulnya apa itu gizi buruk? siapa yang patut disalahkan dengan terjadinya gizi buruk di Papua? Apa benar ini adalah melulu kesalahan Pemerintahan Jokowi? mari kita kembalikan ke istilah Gizi Buruk, apa sebetulnya Gizi Buruk itu?

Dalam media online dr.Ahmad Muhlisin menulis di mediskus.com terkait gizi buruk.

Gizi buruk adalah kondisi tubuh terparah yang mengalami kekurangan gizi dalam kurun waktu yang lama (menahun). Hal ini umumnya terjadi pada anak-anak, gizi buruk pada anak seringkali disebabkan oleh kurangnya asupan makanan bergizi seimbang, di samping itu bisa juga disebabkan oleh penyakit-penyakit tertentu yang menyebabkan terganggunya proses pencernaan makanan ataupun terganggunya penyerapan zat gizi penting yang diperlukan oleh tubuh. Dalam istilah medis Gizi Buruk disebut sebagai Malnutrisi Energi Protein (MEP) Berat, MEP itu sendiri ada dua macam yaitu MEP ringan dan berat. Pada MEP ringan disebut juga sebagai gizi kurang, belum menunjukkan gejala klinis yang khas, anak yang mengalami gizi kurang hanya terlihat kurus dan gangguan pertumbuhan. Sedangkan MEP berat atau gizi buruk, anak sudah memiliki gejala-gejala klinis yang khas beserta gangguan biokimiawi dalam tubuh. Gizi buruk dikenal juga dengan sebutan Busung Lapar yang memiliki tiga bentuk klinis, yaitu Marasmus, Kwashiorkor, dan Marasmus-Kwashiorkor.

Kenali Ciri-Ciri Gizi Buruk Pada Anak Ketika seorang mengalami masalah kekurangan gizi, maka tanda dan gejala utama yang dapat kita amati antara lain: anak terlihat kurus, pertumbuhan kurang, dan berat badannya kurang. Biasanya anak susah/tidak mau makan,kadang rewel, sering menderita sakit yang berulang, dan terkadang timbul pembengkakan pada tungkai atau bahkan seluruh tubuh. Secara lebih rinci berikut ciri-ciri gizi buruk pada anak: # Ciri-Ciri Anak Kurang Gizi (MEP Ringan) Yang menonjol adalah ganggun pertumbuhan: Anak terlihat kurus Berat badan sulit bertambah, atau bahkan cenderung turun Tinggi badan bisa normal atau kurang berdasarkan usianya Perbandingan antara berat badan terhadap tinggi badan normal atau dibawah normal Pengukuran lingkar lengan atas (Lila) didapatkan hasil lebih kecil dari normal Pematangan tulang terhambat Aktifitas dan perhatian kurang dibandingkan dengan anak-anak sehat lainnya. Tebal lipatan kulit biasanya berkurang # Ciri-Ciri Marasmus (MEP berat) Terlihat sangat kurus, raut muka seperti orang tua. Sering rewel dan cengeng. Kulit kendor dan keriput, terlihat kering dan teraba dingin Ketika kulit dicubit ringan dan dilepas, kulit lama kembali, yang artinya turgor berkurang. Lapisan lemak dibawah kulit sedikit, sehingga kulit tampak tipis. Otot-otot mengecil (atropi) sehingga kontur tulang terlihat jelas. Tekanan darah dan denyut jantung lebih rendah dibanding anak sehat yang sebaya dengannya. # Ciri-Ciri Kwashiorkor (MEP berat) Anak lebih cendrung apatis, kurang merespon Bisa mengalami anemia yang ditandai dengan kulit pucat, bibir dan selaput kelopak mata tampat pucat. Rambut menjadi mudah dicabut, teksturnya rusak dan berwarna karat Gangguan pencernaan, seperti diare, sakit perut, atau mual-mual. Ada pembesaran hati, perut tampak membesar Kulit menjadi sensitif sehingga mudah teriritasi dan timbul borok (dermatosis) Edema atau pembengakakan pada tungkai, perut, atau bahkan seluruh tubuh.

Penyebab Gizi Buruk Seperti telah disinggung sebelumnya malnutrisi terjadi ketika tubuh tidak mendapatkan nutrisi yang cukup, baik karena asupannya yang kurang atau karena gangguan penyerapan zat nutrisi oleh tubuh. Penyebab paling umum dari kekurangan gizi pada anak-anak adalah kondisi kesehatan jangka panjang yang: menyebabkan kurangnya nafsu makan mengganggu proses normal pencernaan menyebabkan tubuh memerlukan energi yang besar Contoh jenis penyakit seperti ini termasuk kanker pada anak, penyakit jantung bawaan, fibrosis kistik dan cerebral palsy. Di samping itu, faktor-faktor di bawah ini juga mempengaruhi: # Sanitasi Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan pada tahun 2008 bahwa secara global, separuh dari semua kasus gizi pada anak balita disebabkan oleh air yang tidak aman, sanitasi yang tidak memadai atau kebersihan yang kurang. Kondisi seperti ini sering menyebabkan diare berulang dan infeksi cacing usus. # Kesenjangan sosial Di hampir semua negara, anak-anak dari kelurga kurang mampu memiliki tingkat gizi buruk tertinggi. Karena hal ini tentu saja akan mempengaruhi ketersidaan makanan bergizi untuk anak-anak.

Penyakit Diare dan infeksi lainnya dapat menyebabkan kekurangan gizi karena menurunnya penyerapan nutrisi, penurunan asupan makanan, peningkatan kebutuhan metabolik, dan hilangnya nutrisi langsung. Infeksi parasit, khususnya infeksi cacing usus (helminthiasis), juga dapat menyebabkan kekurangan gizi. Penyebab utama diare dan infeksi cacing usus pada anak-anak di negara berkembang adalah kurangnya sanitasi dan kebersihan . Anak-anak dengan penyakit kronis seperti HIV memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kekurangan gizi, karena tubuh mereka tidak dapat menyerap nutrisi juga. Penyakit seperti campak adalah penyebab utama dari kekurangan gizi pada anak-anak; sehingga imunisasi bisa menjadi solusi untuk masalah ini. # Faktor ibu Gizi anak-anak usia di bawah 5 tahun sangat bergantung pada tingkat gizi dari ibu mereka selama kehamilan dan menyusui. Tingkat gizi ibu selama kehamilan dapat mempengaruhi ukuran tubuh bayi yang baru lahir. Kekurangan iodium pada ibu biasanya menyebabkan kerusakan otak pada anak, dan beberapa kasus menyebabkan keterbelakangan fisik dan mental yang ekstrim. Hal ini mempengaruhi kemampuan anak untuk mencapai potensi pertumbuhan dan perkembangannya. Pada tahun 2011 UNICEF melaporkan bahwa tiga puluh persen rumah tangga di negara berkembang tidak mengkonsumsi garam beryodium, yang menyumbang 41 juta bayi dan bayi baru lahir di antaranya mengalami defisiensi yodium. # Jenis kelamin Sebuah studi di Bangladesh pada tahun 2009 melaporkan bahwa tingkat kekurangan gizi lebih tinggi pada anak perempuan daripada anak-anak laki-laki. Studi lain menunjukkan bahwa, di tingkat nasional, perbedaan antara tingkat prevalensi gizi antara anak laki-laki dan perempuan umumnya kecil. Anak perempuan sering memiliki status gizi yang lebih rendah di Asia Selatan dan Asia Tenggara dibandingkan dengan anak laki-laki. Sedangkan, di daerah berkembang lainnya, status gizi anak perempuan sedikit lebih tinggi. Penanganan Gizi Buruk Jika Anda mencurigai seorang anak mengalami gizi buruk, maka segeralah di bawa ke puskesmas atau dokter untuk dilakukan pemeriksaan status gizi anak dan menentukan faktor-faktor penyebabnya agar dapat dilakukan penanganan yang sesuai.

Semoga penjelasan di atas bisa lebih memberikan pencerahan perihal sebab gizi buruk dan siapa yang harus bertanggung jawab.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *